Showing posts with label cina. Show all posts
Showing posts with label cina. Show all posts

Thursday, October 30, 2008

Mengapa Bangsa China Maju Pesat ?

Budaya China dan masyarakatnya, tak pelak, merupakan kisah sukses yang paling terkenal. Maju pesatnya perekonomian China sejak beberapa tahun lalu menunjukkan bahwa “Sang Naga” memang tengah menggeliat, baru bangun dari tidur panjangnya.

Sebagaimana diketahui, kini banyak barang produksi China telah merambah Asia, Afrika, dan Amerika Selatan, bahkan memasuki AS dan Eropa, negara yang dikenal paling ketat dalam mengawasi produk-produk luar. Tidak heran, PBB menganggap China sebagai negara yang paling pesat pertumbuhan ekonominya.
Sebenarnya, kesuksesan China sudah berlangsung sejak lama. Jauh sebelum abad Masehi, masyarakat purba China sudah mampu menemukan peralatan penting, seperti kompas, kertas, dan kode biner komputer. Para pakar Barat memang mengakui bahwa budaya China tidak tertandingi dalam sejarah umat manusia. Budaya tersebut memiliki banyak sekali rahasia tentang motivasi dan kesuksesan sejak zaman dulu hingga zaman sekarang.
Mereka percaya budaya China berlangsung sepanjang masa. Bukti konkretnya adalah manakala peradaban-peradaban kuno lain seperti Sumeria, Babylonia, Mesir, Romawi, dan Yunani timbul tenggelam ditelan waktu, budaya China tetap bertahan terus. Peradaban China dikatakan “memiliki haluan untuk bersemi kembali setelah mengalami kemunduran” (Keajaiban Seni Motivasi Bangsa Cina Kuno, 2007).

Konon, ketika para kaisar saling mengalahkan satu sama lain, mereka cenderung merusak budaya dari pihak yang kalah. Namun hal seperti itu justru tidak terjadi ketika Mongol dan Manchu mengalahkan China. Sebagai gantinya, budaya China “memenangkan” mereka. Dalam hal ini, kebudayaan China malah dilestarikan dan dikembangkan.
Budaya China bertahan begitu lama karena kuat, praktis, dan penuh kearifan. Apalagi didukung para pemimpin China yang hampir selalu mempelajari jiwa manusia dan menulis beberapa teks kuno, seperti I Ching dan Tung Shu. Dari masa kuno juga terwariskan buku-buku tentang filsafat Tao dan filsafat Sun Tzu yang amat terkenal.
Teks-teks kuno itu mampu memberikan wawasan, pedoman, aturan, dan prinsip tentang kesuksesan, pengelolaan usaha, perkawinan, keluarga, pendirian negara, strategi, bahkan perang. Hasil-hasilnya terlihat jelas bahwa rakyat China adalah orang-orang yang luar biasa dalam praktik, mampu beradaptasi, dan selalu sukses hampir di semua perjalanan hidup mereka di seantero dunia. Mereka bukan saja menjadi penguasa perekonomian baru, tetapi juga berjaya di bidang ilmu pengetahuan dan olahraga.

Adaptasi
Budaya China memang sempat mengalami kemunduran karena pengaruh Barat, seperti akibat Perang Candu dan Perang Dunia II. Namun karena kemampuan beradaptasi dan masyarakatnya berjiwa avonturir, budaya China justru semakin berkembang luas di seluruh dunia.
Hal yang amat nyata diperlihatkan oleh hadirnya China Town di berbagai negara, termasuk Pecinan di Indonesia. Adanya China Town tentu saja merupakan bukti keberhasilan bisnis China di wilayah itu.
Kemampuan adaptasi orang China juga terlihat dari kemampuan mereka membuat makanan dalam bentuk apa saja yang mengesankan. Dulu, misalnya, di pantai-pantai Eropa banyak sekali terlihat kepiting berlari-lari di atas pasir.
Ketika air laut surut, banyak kerang menempel di batu-batu karang. Dengan riang orang-orang China menangkapi kepiting dan mengambili kerang lalu memasaknya sebagai makanan yang lezat dan bergizi.
Hal ini sebelumnya tidak terbayangkan oleh bangsa Eropa bahwa sesungguhnya kepiting dan kerang bisa dimakan. Kemampuan orang China untuk mengubah sebagian besar apa saja menjadi makanan enak dan mahal merupakan kisah legendaris, sekaligus bukti dari kemampuan adaptasi pikiran dan perasaan mereka.
Konon, rahasia utama budaya China adalah memadukan pelajaran tentang motivasinya dengan seni pada berbagai benda yang indah dan rumit. Artinya, filosofi motivasi China diterjemahkan ke dalam sesuatu yang memiliki daya tarik, gaib, dan mistis.
Dengan demikian motivasi China banyak mengandung kecerdasan sehingga dipandang memiliki corak yang indah dan cemerlang. Selain itu, para pemimpin China kuno mencurahkan beberapa ungkapan dan simbol guna menekankan betapa pentingnya kemampuan otak. Ini ditandai dengan betapa banyaknya karakter dalam huruf Kanji dimana setiap huruf mengandung makna tersendiri.
Simbolisasi sering dipakai untuk memberi motivasi. Ikan mas, misalnya, dipercaya adalah simbol ketekunan. Menurut filosofi China purba, “dengan ketekunan, orang bodoh sekalipun bisa menyingkirkan gunung”. Masih banyak simbol lain yang dikenal, seperti tentang kekayaan, nasib, dan keberuntungan.
Ternyata, simbol-simbol keberkahan yang penuh cemerlang itu menciptakan pandangan yang optimistis tentang kekayaan dan keberuntungan, yang hampir tidak jelas menciptakan keinginan di dalam pola pikir untuk menjadi kaya dan sukses.
Kemampuan adaptasi dan motivasi yang dilakukan masyarakat China banyak mengilhami peneliti-peneliti Barat. Untuk itu sejak abad XVIII mereka giat menerjemahkan teks-teks kuno China.
Berkat merekalah kini masyarakat modern di seluruh penjuru dunia mengenal feng shui (ilmu tata letak bangunan), akupunktur, akupresur, dan refleksiologi (ilmu pengobatan), teori yin yang (keseimbangan hidup), dan berbagai ilmu ramalan.

Leluhur
Masyarakat China kuno percaya keutuhan keluarga merupakan kunci utama kesuksesan. Begitu pula bakti kepada leluhur. Mereka sering “menerjemahkannya” lewat puisi, seperti puisi berikut: Andaikan ayah dan anak bersatu/Gunung-gunung menjadi batu permata/Andaikan jantung kakak beradik sama/Bumi pun bisa menjadi emas.
Puisi ini menyiratkan kesan bahwa harus ada kerja keras di antara manusia. Begitulah, puisi-puisi seperti inilah yang mampu menjadi motivator kemajuan bangsa dan negara.
Perhatian masyarakat China terhadap keluarga dan leluhur tercermin pada kesetiaan mereka merawat makam-makam kerabat. Bahkan ada yang memperlakukannya secara berlebihan.
Sementara itu, kaisar-kaisar zaman dulu banyak mewariskan kenangan leluhur yang mulia. Menurut penulis buku tentang China, Ong Tang, meskipun sering disalahgunakan, namun warisan-warisan tersebut mengandung rahasia kesuksesan akhir yang sangat mengagumkan.
Pemujaan kepada leluhur sering dikaitkan dengan festival. Pada masa kuno festival memiliki arti khusus karena dihubungkan dengan pemujaan untuk mengenang para dewa. Menurut orang-orang bijak zaman dulu, termasuk Konghucu (Confucius), bangsa yang mengabaikan perayaan-perayaan festival utama akan terancam binasa. Alasannya adalah orang ingin menikmati kesenangan dan lagi pula festival dapat menyatukan rakyat bersama-sama, terutama dengan para pemimpinnya.
Sampai kini mungkin masih banyak rahasia tersembunyi di China. Tak heran seorang nabi besar pernah berkata, “Kejarlah ilmu sampai ke negeri China”. Bagaimana dengan kita?
Memang, kunci utama kesuksesan relatif sama pada semua bangsa, yakni ketekunan, keuletan, kejujuran, kerja keras, dan keberuntungan. Namun mengapa bangsa China memiliki keunggulan?


Dan “mengapa” China mampu menghasilkan produk sedemikian banyak, bagus, dan murah.

Dikatakan, sebab penting kehebatan China adalah karena “jaring laba-laba” keluarga. Pedagang-pedagang dari China berhasil menembus pasar karena memanfaatkan jaring-jaring ini “baik di dalam negeri maupun di luar negeri”. Lalu dikatakan, “Umumnya orang China begitu erat rasa persaudaraannya. Nama marga mempererat persatuan dan amat membuka peluang kerja sama. Tak heran, orang China hanya memercayakan usahanya kepada bangsanya sendiri”.

Argumen seperti ini sering dikemukakan banyak penulis. Penanam modal ter-besar di China bukan orang dari Jepang atau Amerika, tetapi “orang China perantauan” (overseas Chinese). Siapa mereka? Mereka adalah orang China dari Taiwan dan Hongkong. Belum jelas, apakah orang China Asia Tenggara juga membawa modalnya ke China dalam jumlah besar. Cultural proximity ini sering dipakai untuk menjelaskan mengapa modal dari Taiwan dan Hongkong masuk daratan China.

Selain itu, dilontarkan argumen tambahan, yaitu pengusaha China sedemikian “percaya” satu sama lain. ‘Artinya, konsumen tinggal menghubungi via telepon dan pedagang dengan cepat mengirim barang sesuai pesanan. Kejujuran dipegang teguh meski konsumen belum memberikan uangnya”. Pernyataan ini harus dikoreksi: bukan antara pedagang dan konsumen, tetapi antarpedagang, ada saling percaya, terutama dalam hal kredit. Pengusaha China terkenal karena trust yang tinggi sehingga mereka dapat merebut peluang sekecil apa pun. Pada saat ada kesempatan dan modal yang diperoleh dengan cepat, mereka segera merebut kesempatan itu.

“Trust”

Trust antarpedagang China ini menarik perhatian banyak sosiolog. Mereka sendiri memakai istilah guanxi (hubungan) guna menjelaskan gejala trust antarmereka. Guanxi ini sebenarnya tidak terbatas pada hubungan kekeluargaan saja.
Hubungan-hubungan lain yang bisa menimbulkan guanxi misalnya kesamaan asal daerah (desa, kabupaten, provinsi), kesamaan sekolah (alumni), dan persahabatan. Pilih salah satu dari variabel itu. dan Anda akan menemukan dasar bagi guanxi.

Dalam peribahasa China dikatakan: jiali kao fumu, chumen kao pengyou. “Di rumah orang bersandar pada bapak-ibu, di luar rumah orang menggantungkan diri pada sahabat”. Persahabatan di China dijunjung tinggi. Salah satu dari lima hubungan ajar-an Konfusius (wu tun) adalah hubungan antarsahabat. Jika orang China suka pada seseorang, ia akan cepat mengatakan pengyou (sobat). Jika sungguh suka dan percaya, ia akan memakai istilah lao pengyou (sobat lama).

Trust ini lain dibanding trust yang dibangun dalam institusi modern. Kehidupan modern, termasuk ekonomi, tidak bisa bertahan jika tidak ada trust. Dapat dikatakan trust di dunia modern diletakkan berdasar kepastian hukum. Namun trust di kalangan orang China dibangun atas dasar yang berbeda. Trust di kalangan orang China didasarkan kekeluargaan, kedaerahan, alumni sekolah, dan persahabatan.

Orang akan mengatakan, trust yang didasarkan atas hukum lebih “terbuka” di-banding yang didasarkan faktor-faktor di atas. Tidak mungkin membangun trust dengan orang China jika bukan berasal dari keluarga, daerah, atau alumni sekolah! Masih ada peluang lain, lewat hubungan persahabatan (pengyou). Dalam banyak legenda dari China dilukiskan banyak hubungan persahabatan yang mengharukan. Sampai hari ini pun sering ditemukan banyak persahabatan antarorang China yang erat, bahkan sama atau melebihi hubungan dengan anggota keluarga.

Indonesia juga
Pembicaraan tentang trust dan guanxi sebenarnya menggugat semua teori hubungan transaksi yang didasarkan atas teori hubungan pasar. Dalam situasi pasar, semua individu adalah rival atau kompetitor yang bersaing, bahkan bersaing dengan tidak jujur. Karena itu, semua transaksi
harus didasarkan atas secarik kertas yang berisi kontrak, hitam atas putih, yang dijamin negara sebagai pemegang alat pemaksa yang sah.
Akibatnya orang menjadi musuh bagi orang lain. Hubungan keluarga, kedaerahan, sekolah, dan persahabatan, semua dianggap tidak relevan. Saudara dan saudara bisa saling menggugat di pengadilan, sahabat dan sahabat bisa terlibat pengadilan bertele-tele. Yang penting, kepentingan pribadi (self-interest) harus menang lewat kompetisi bengis di tengah pasar.
Kultur China justru mengajarkan kebalikannya. Boleh ada pasar, tetapi hubungan balk antarmanusia tetap jalan. Boleh ada persaingan, tetapi tolong-menolong antarkeluarga, orang sedaerah, satu alumni, dan sahabat tidak boleh dilupakan. Pasar selalu embedded, tidak mengalahkan guanxi. Bisa saja dikatakan hal ini akan menimbulkan nepotisme dan kolusi, tetapi dibuktikan empiris, guanxi mendukung pertumbuhan dahsyat ekonomi China.
Apakah di Indonesia tidak ada fenomena yang sama? Ada, dan mirip. Kekeluargaan penting, kedaerahan, bahkan hubungan alumni juga penting. Lihat pasar-pasar di Jakarta yang didominasi berbagai suku, juga kantor-kantor pemerintah maupun swasta penuh alumni universitas tertentu. Semangat “tolong-menolong” dan “gotong royong” masih ada, belum hilang. Ada kekhawatiran, ini dapat menimbulkan korupsi, tetapi mengapa tidak bisa sebaliknya, menimbulkan social capital seperti di kalangan orang China?
Mungkin kini orang Indonesia sedang lupa jati diri, bingung, dan memakai aneka “teori” aneh, yang justru memperlemah semangat membangun bangsa.

Monday, October 20, 2008

Jaringan Mafia Cina Indonesia di AS

KANTOR Organisasi Masyarakat China Indonesia di Amerika (CIAS) berlokasi di 6155 Pohick Station Deive, Fairfax Station, Virginia. Biro jasa ini melayani pengurusan suaka, kartu tanda pengenal, SIM, kartu hijau, dan paspor Amerika.

Gedung CIAS juga menjadi tempat tinggal Hans Gouw dan Isnayanti Gouw, istrinya.Sejak September 2000, CIAS sering memasang iklan di majalah Indonesian Journal yang terbit di Fontana, California, dan Indonesia Media, terbitan Glendora, California. CIAS punya perwakilan di seluruh Amerika dengan pimpinan cabang masing-masing.

Misalnya, Jenny Gandasaputra di kawasan Pantai Timur, Lestari Nugroho di Pantai Barat, Herlina Suherman di Mid West, dan Willy Irsan serta Raymond Marschall, Direktur Urusan Keanggotaan CIAS. Ada empat lembaga lain yang punya bisnis sejenis.

Mereka adalah Asian American Placement Services (AAPS), Kumala Nusantara, Petra International, dan Chinese Indonesian Pribumi Community Services (CIPCS). AAPS adalah kantor jasa pengurusan asilum dan imigrasi bagi pendatang Indonesia, berkantor di 6003 Captain Marr Court, Fairfax Station, Virginia. Sejak Agustus 2001, lembaga ini selalu memasang iklan di majalah Indonesian Journal dan Indonesia Media yang terbit di Virginia.

Dalam iklannya, AAPS bisa menyediakan jasa asilum, pengurusan kartu hijau, visa Amerika dan Kanada, serta mengurus izin menyopir di Amerika. Semua permintaan akan ditangani langsung oleh Mega G. Saputra alias Megawaty Gandasaputra, 46 tahun, yang suaka politiknya dikabulkan pada 1999. Ia dibantu suaminya, Michael Wright, 43 tahun, warga Amerika.Kumala Nusantara atau dikenal dengan KN atau K-Nusantara Service Inc berkedudukan di 6155 Pohick Station Drive, Fairfax Station, Virginia. Gedung yang ditempati adalah bekas kantor CIAS, sekaligus markas Hans Gouw. Kantor jasa yang melayani asilum, pembuatan kartu identitas, SIM, dan sebagainya ini dikelola Nany Kumala. Ia pernah bekerja di CIAS sampai November 2003.

Petra International yang berlokasi di Great Tree Court, Fairfax, Virginia, adalah tempat tinggal Jenny Gandasaputra dan Herman Tanudjaja. Bisnisnya ekspor-impor barang-barang Amerika. Pada 13 Maret 2003, Jenny menjual rumah ini ke Isnayanti Gouw seharga US$ 338.000. Pada 22 Desember 2003, Gouw memberikan bangunan itu sebagai hadiah pada Jenny.CIPCS berlokasi di 7800 Delano Court, Manassas, Virginia. Alamat ini sekaligus menjadi rumah tinggal pemiliknya, Silvy Karageorge alias Silvy Waluyo alias Silvy Rodriguez alias Silvy Tjandratanaja, warga Amerika berusia 47 tahun.

Kelima perusahaan yang dituduh sebagai jaringan pemalsu dokumen imigrasi itu digerakkan sejumlah tokohnya. Mereka kini ditahan Pemerintah Amerika Serikat. Di antara mereka yang ditahan itu adalah:

Hans Gouw:HANS Gouw, yang juga dikenal dengan nama Liong Hoat Gouw atau Hady Gandasaputra, warga negara Indonesia berusia 53 tahun. Pria yang lahir di Indonesia, 12 Maret 1951, ini dikabulkan permohonan suakanya pada 22 Juli 1999.

Sekarang Hans sedang dalam proses menunggu perubahan statusnya menjadi permanent resident atau pemegang kartu hijau. Ia menjabat sebagai Direktur Umum CIAS.

Isnayanti Gouw: ISNAYANTI Gouw, juga dikenal sebagai Isnayanti Al Yanti, istri Hans Gouw. Ia lahir di Indonesia pada 29 Januari 1969. Permohonan suaka politiknya dikabulkan Pemerintah Amerika Serikat pada 22 Juli 1999. Ia ikut menangani berbagai urusan di CIAS yang dipimpin suaminya.

Jenny Gandasaputra:JENNY Gandasaputra, yang juga dikenal sebagai Sioe Hoa Gouw atau Jenny Tanudjaja, adalah adik perempuan Hans Gouw. Lahir di Indonesia pada 9 Februari 1953. Permohonan suaka politiknya dikabulkan Pemerintah Amerika pada 27 Oktober 1999. Ia menikah dengan Herman Tanudjaja, dan tinggal di Fairfax, Virginia.

Dalam CIAS, Jenny duduk sebagai wakil di Pantai Timur. Ia juga menjadi wakil perusahaan Petra International. Anak laki-lakinya, Joandi C. Gani, manajer di perusahaan itu.

Johnson Aliffin:JOHNSON Aliffin, 33 tahun, warga negara Indonesia yang lahir pada 15 April 1971. Permohonan suaka politiknya dikabulkan Pemerintah Amerika pada 23 April 2001. Aliffin adalah mantan pegawai pada CIAS yang bertugas menangani kasus para klien di organisasi tersebut.

Ratna Sari Hartanto:RATNA Sari Hartanto alias Ai "Laura" Ling adalah warga negara Indonesia berusia 38 tahun yang lahir 17 Juni 1966. Permohonan suaka politiknya dikabulkan Pemerintah Amerika pada 29 Mei 2001. Ratna, yang sekarang tidak diketahui keberadaanya, mantan pegawai CIAS yang ikut membantu menangani kasus para klien.

Rosita Setyawati:ROSITA Setyawati alias "Budi" adalah warga negara Indonesia berusia 46 tahun. Ia datang ke Amerika pada 26 Januari 2001 dengan visa turis. Pada 1 Agustus 2001, ia mengajukan permohonan suaka politik, tapi kemudian ditarik kembali ketika Pemerintah Amerika mempertanyakan keabsahan kisah yang dijadikan alasan. Pada 14 Oktober 2004, ia mendapat perintah deportasi.Saat ini, status Rosita sebagai objek pemulangan paksa karena melanggar perintah deportasi. Rosita adalah teman kongsi Hans Gouw. Mereka kerap mencari klien orang Indonesia di Philadelphia untuk CIAS. Pada 10 November 2004, Rosita dituntut Pengadilan Virginia dengan tuduhan penipuan pada permohonan suaka politik.

Brigitta Parerra:BRIGITTA Mercy Parerra, alias Gita alias Brigitta Mercy Laihabas alias Maria Yohana alias Yoh Mei En, seorang warga negara Indonesia berusia 35 tahun. Gita mengaku lahir pada 20 Juli 1969. Tapi, ketika menggunakan nama Maria Yohana, ia memberi tanggal lahir dengan tahun berbeda, menjadi 20 Juli 1965.

Menurut data imigrasi, Gita terakhir masuk Amerika Serikat memakai nama Brigitta Parerra pada 18 November 2001, dengan menggunakan visa turis.Permohonan suaka Gita dikabulkan Pemerintah Amerika pada 14 November 2002. Suaka politik ini menggunakan nama Maria Yohana. Pihak berwenang Virginia yakin, Parera tak lain adalah Yohana yang bekerja sebagai sekretaris sekaligus penerjemah CIAS.

Willy Irsan:WARGA Indonesia berusia 33 tahun ini lahir pada 19 September 1971. Ia masuk ke Amerika pada 28 Juli 2000 sebagai turis. Pada 16 Mei 2003, permohonan asilumnya ditolak. Irsan kini menunggu dideportasi. Irsan yang tinggal di 14426 Awbrey Patent Drive, Centreville, Virgnia, dikenal sebagai penerjemah unuk CIAS.

Achnita Supomo:WANITA berusia 37 tahun ini warga Indonesia. Ia istri Willy Irsan. Achnita lahir pada 3 Mei 1967. Ia terakhir masuk Amerika sebagai turis pada 1 Juli 2000. Visanya habis. Kini ia menunggu dideportasi. Ia dikenal sebagai penerjemah untuk CIAS.

Lestari Nugroho:WANITA berusia 28 trahun ini warga Indonesia yang lahir pada 23 Oktober 1976. Permohonan suaka politiknya dikabulkan pada 5 Maret 2002. Ia tinggal menunggu izin permanent resident-nya keluar. Lestari tinggal di Portland, Oregon. Ia wakil CIAS di Pantai Barat. Pada 10 November 2004, Lestari dituntut Pengadilan Virginia dengan tuduhan penipuan permohonan suaka politik.

Raymond Marschall:WARGA Indonesia berusia 26 tahun, lahir 7 Maret 1977, dan masuk Amerika pada 27 Agustus 2000 sebagai turis. Visanya habis, dan Marshcall sedang menunggu dideportasi. Alamat terakhir tercatat di 5506 Great Tree Court, Fairfax, Virginia. Ia pernah menjabat sebagai direktur keanggotaan di CIAS.

Hanny Kembuan:WARGA Indonesia berusia 46 tahun ini dikabulkan permohonan kartu hijaunya pada 19 Januari 1995. Sejak Maret atau April 1995, Hanny adalah perwakilan CIAS yang para anggotanya tinggal di Virginia. April lalu, Hanny sempat terbang ke Indonesia dan kembali ke Amerika pada 19 September 2004 lewat Los Angeles, California. Pada 10 November 2004, Hanny dituntut Pengadilan Virginia dengan tuduhan penipuan permohonan suaka politiknya.

Surya Halim:PRIA berusia 33 tahun warga Indonesia ini dikabulkan permohonan suaka politiknya pada 28 Juni 2002. Ia kini menunggu kartu hijaunya. Fasih berbahasa Inggris dan Indonesia, tinggal di 144226 Awbey Patent Drive,Centreville, Virginia. Ia penerjemah di CIAS.Danny Susanto:PRIA 34 tahun warga Indonesia, dikabulkan permohonan suaka politiknya pada 9 Februari 2004. Kini tinggal menunggu statusnya sebagai permanent resident. Tinggal di 6155 Pohick Station Drive, Fairfax Station, Virginia. Susanto mantan pegawai di CIAS yang mempersiapkan aplikasi asilum.

sumber: gatra