Showing posts with label mafia. Show all posts
Showing posts with label mafia. Show all posts

Monday, October 20, 2008

Jaringan Mafia Cina Indonesia di AS

KANTOR Organisasi Masyarakat China Indonesia di Amerika (CIAS) berlokasi di 6155 Pohick Station Deive, Fairfax Station, Virginia. Biro jasa ini melayani pengurusan suaka, kartu tanda pengenal, SIM, kartu hijau, dan paspor Amerika.

Gedung CIAS juga menjadi tempat tinggal Hans Gouw dan Isnayanti Gouw, istrinya.Sejak September 2000, CIAS sering memasang iklan di majalah Indonesian Journal yang terbit di Fontana, California, dan Indonesia Media, terbitan Glendora, California. CIAS punya perwakilan di seluruh Amerika dengan pimpinan cabang masing-masing.

Misalnya, Jenny Gandasaputra di kawasan Pantai Timur, Lestari Nugroho di Pantai Barat, Herlina Suherman di Mid West, dan Willy Irsan serta Raymond Marschall, Direktur Urusan Keanggotaan CIAS. Ada empat lembaga lain yang punya bisnis sejenis.

Mereka adalah Asian American Placement Services (AAPS), Kumala Nusantara, Petra International, dan Chinese Indonesian Pribumi Community Services (CIPCS). AAPS adalah kantor jasa pengurusan asilum dan imigrasi bagi pendatang Indonesia, berkantor di 6003 Captain Marr Court, Fairfax Station, Virginia. Sejak Agustus 2001, lembaga ini selalu memasang iklan di majalah Indonesian Journal dan Indonesia Media yang terbit di Virginia.

Dalam iklannya, AAPS bisa menyediakan jasa asilum, pengurusan kartu hijau, visa Amerika dan Kanada, serta mengurus izin menyopir di Amerika. Semua permintaan akan ditangani langsung oleh Mega G. Saputra alias Megawaty Gandasaputra, 46 tahun, yang suaka politiknya dikabulkan pada 1999. Ia dibantu suaminya, Michael Wright, 43 tahun, warga Amerika.Kumala Nusantara atau dikenal dengan KN atau K-Nusantara Service Inc berkedudukan di 6155 Pohick Station Drive, Fairfax Station, Virginia. Gedung yang ditempati adalah bekas kantor CIAS, sekaligus markas Hans Gouw. Kantor jasa yang melayani asilum, pembuatan kartu identitas, SIM, dan sebagainya ini dikelola Nany Kumala. Ia pernah bekerja di CIAS sampai November 2003.

Petra International yang berlokasi di Great Tree Court, Fairfax, Virginia, adalah tempat tinggal Jenny Gandasaputra dan Herman Tanudjaja. Bisnisnya ekspor-impor barang-barang Amerika. Pada 13 Maret 2003, Jenny menjual rumah ini ke Isnayanti Gouw seharga US$ 338.000. Pada 22 Desember 2003, Gouw memberikan bangunan itu sebagai hadiah pada Jenny.CIPCS berlokasi di 7800 Delano Court, Manassas, Virginia. Alamat ini sekaligus menjadi rumah tinggal pemiliknya, Silvy Karageorge alias Silvy Waluyo alias Silvy Rodriguez alias Silvy Tjandratanaja, warga Amerika berusia 47 tahun.

Kelima perusahaan yang dituduh sebagai jaringan pemalsu dokumen imigrasi itu digerakkan sejumlah tokohnya. Mereka kini ditahan Pemerintah Amerika Serikat. Di antara mereka yang ditahan itu adalah:

Hans Gouw:HANS Gouw, yang juga dikenal dengan nama Liong Hoat Gouw atau Hady Gandasaputra, warga negara Indonesia berusia 53 tahun. Pria yang lahir di Indonesia, 12 Maret 1951, ini dikabulkan permohonan suakanya pada 22 Juli 1999.

Sekarang Hans sedang dalam proses menunggu perubahan statusnya menjadi permanent resident atau pemegang kartu hijau. Ia menjabat sebagai Direktur Umum CIAS.

Isnayanti Gouw: ISNAYANTI Gouw, juga dikenal sebagai Isnayanti Al Yanti, istri Hans Gouw. Ia lahir di Indonesia pada 29 Januari 1969. Permohonan suaka politiknya dikabulkan Pemerintah Amerika Serikat pada 22 Juli 1999. Ia ikut menangani berbagai urusan di CIAS yang dipimpin suaminya.

Jenny Gandasaputra:JENNY Gandasaputra, yang juga dikenal sebagai Sioe Hoa Gouw atau Jenny Tanudjaja, adalah adik perempuan Hans Gouw. Lahir di Indonesia pada 9 Februari 1953. Permohonan suaka politiknya dikabulkan Pemerintah Amerika pada 27 Oktober 1999. Ia menikah dengan Herman Tanudjaja, dan tinggal di Fairfax, Virginia.

Dalam CIAS, Jenny duduk sebagai wakil di Pantai Timur. Ia juga menjadi wakil perusahaan Petra International. Anak laki-lakinya, Joandi C. Gani, manajer di perusahaan itu.

Johnson Aliffin:JOHNSON Aliffin, 33 tahun, warga negara Indonesia yang lahir pada 15 April 1971. Permohonan suaka politiknya dikabulkan Pemerintah Amerika pada 23 April 2001. Aliffin adalah mantan pegawai pada CIAS yang bertugas menangani kasus para klien di organisasi tersebut.

Ratna Sari Hartanto:RATNA Sari Hartanto alias Ai "Laura" Ling adalah warga negara Indonesia berusia 38 tahun yang lahir 17 Juni 1966. Permohonan suaka politiknya dikabulkan Pemerintah Amerika pada 29 Mei 2001. Ratna, yang sekarang tidak diketahui keberadaanya, mantan pegawai CIAS yang ikut membantu menangani kasus para klien.

Rosita Setyawati:ROSITA Setyawati alias "Budi" adalah warga negara Indonesia berusia 46 tahun. Ia datang ke Amerika pada 26 Januari 2001 dengan visa turis. Pada 1 Agustus 2001, ia mengajukan permohonan suaka politik, tapi kemudian ditarik kembali ketika Pemerintah Amerika mempertanyakan keabsahan kisah yang dijadikan alasan. Pada 14 Oktober 2004, ia mendapat perintah deportasi.Saat ini, status Rosita sebagai objek pemulangan paksa karena melanggar perintah deportasi. Rosita adalah teman kongsi Hans Gouw. Mereka kerap mencari klien orang Indonesia di Philadelphia untuk CIAS. Pada 10 November 2004, Rosita dituntut Pengadilan Virginia dengan tuduhan penipuan pada permohonan suaka politik.

Brigitta Parerra:BRIGITTA Mercy Parerra, alias Gita alias Brigitta Mercy Laihabas alias Maria Yohana alias Yoh Mei En, seorang warga negara Indonesia berusia 35 tahun. Gita mengaku lahir pada 20 Juli 1969. Tapi, ketika menggunakan nama Maria Yohana, ia memberi tanggal lahir dengan tahun berbeda, menjadi 20 Juli 1965.

Menurut data imigrasi, Gita terakhir masuk Amerika Serikat memakai nama Brigitta Parerra pada 18 November 2001, dengan menggunakan visa turis.Permohonan suaka Gita dikabulkan Pemerintah Amerika pada 14 November 2002. Suaka politik ini menggunakan nama Maria Yohana. Pihak berwenang Virginia yakin, Parera tak lain adalah Yohana yang bekerja sebagai sekretaris sekaligus penerjemah CIAS.

Willy Irsan:WARGA Indonesia berusia 33 tahun ini lahir pada 19 September 1971. Ia masuk ke Amerika pada 28 Juli 2000 sebagai turis. Pada 16 Mei 2003, permohonan asilumnya ditolak. Irsan kini menunggu dideportasi. Irsan yang tinggal di 14426 Awbrey Patent Drive, Centreville, Virgnia, dikenal sebagai penerjemah unuk CIAS.

Achnita Supomo:WANITA berusia 37 tahun ini warga Indonesia. Ia istri Willy Irsan. Achnita lahir pada 3 Mei 1967. Ia terakhir masuk Amerika sebagai turis pada 1 Juli 2000. Visanya habis. Kini ia menunggu dideportasi. Ia dikenal sebagai penerjemah untuk CIAS.

Lestari Nugroho:WANITA berusia 28 trahun ini warga Indonesia yang lahir pada 23 Oktober 1976. Permohonan suaka politiknya dikabulkan pada 5 Maret 2002. Ia tinggal menunggu izin permanent resident-nya keluar. Lestari tinggal di Portland, Oregon. Ia wakil CIAS di Pantai Barat. Pada 10 November 2004, Lestari dituntut Pengadilan Virginia dengan tuduhan penipuan permohonan suaka politik.

Raymond Marschall:WARGA Indonesia berusia 26 tahun, lahir 7 Maret 1977, dan masuk Amerika pada 27 Agustus 2000 sebagai turis. Visanya habis, dan Marshcall sedang menunggu dideportasi. Alamat terakhir tercatat di 5506 Great Tree Court, Fairfax, Virginia. Ia pernah menjabat sebagai direktur keanggotaan di CIAS.

Hanny Kembuan:WARGA Indonesia berusia 46 tahun ini dikabulkan permohonan kartu hijaunya pada 19 Januari 1995. Sejak Maret atau April 1995, Hanny adalah perwakilan CIAS yang para anggotanya tinggal di Virginia. April lalu, Hanny sempat terbang ke Indonesia dan kembali ke Amerika pada 19 September 2004 lewat Los Angeles, California. Pada 10 November 2004, Hanny dituntut Pengadilan Virginia dengan tuduhan penipuan permohonan suaka politiknya.

Surya Halim:PRIA berusia 33 tahun warga Indonesia ini dikabulkan permohonan suaka politiknya pada 28 Juni 2002. Ia kini menunggu kartu hijaunya. Fasih berbahasa Inggris dan Indonesia, tinggal di 144226 Awbey Patent Drive,Centreville, Virginia. Ia penerjemah di CIAS.Danny Susanto:PRIA 34 tahun warga Indonesia, dikabulkan permohonan suaka politiknya pada 9 Februari 2004. Kini tinggal menunggu statusnya sebagai permanent resident. Tinggal di 6155 Pohick Station Drive, Fairfax Station, Virginia. Susanto mantan pegawai di CIAS yang mempersiapkan aplikasi asilum.

sumber: gatra

Mafia “Geng Sembilan” di Indonesia

DI dunia remang-remang, nama “Gang of Nine” menjadi legenda. Dibekingi Keluarga Cendana dan petinggi militer, segala sepak terjangnya hampir tak tersentuh. Taipan Tommy Winata-bersama Sugianto Kusuma alias Aguan-disebut-sebut sebagai godfather-nya. Bisnis mereka terentang dari properti hingga judi, dari obat terlarang hingga otomotif.


Benarkah? Dalam wawancara dengan TEMPO, Tommy membantah keras seluruh keterlibatannya di situ. Malah, “Gua baru dengar (nama kelompok itu) sekarang,” katanya. Tapi sejumlah sumber, termasuk mantan preman dan bandar judi Anton Medan, mempercayai keberadaannya. Isi perut “Geng Sembilan” berikut ini dirinci berdasarkan keterangan mereka.
Kecuali Tommy dan Yorrys, yang juga membantah, beberapa nama yang ada di sini tidak dapat dikontak oleh TEMPO.

* Tommy Winata
Mengendalikan Bank Artha Graha, yang dulu bernama Bank Propelat, milik Kodam Siliwangi. Bank Artha Graha adalah pilar utama kerajaan bisnis Tommy: Grup Artha Graha.

* Sugianto Kusuma (Aguan) Nama ini mulai dikenal orang ketika pada 1970-an terlibat penyelundupan barang elektronik via Palembang. Dialah yang memperkenalkan Tommy Winata dengan Angkatan Darat atau Yayasan Kartika Eka Paksi semasa Jenderal Edi Sudradjat menjabat Kepala Staf Angkatan Darat. “Pak Aguan adalah senior saya,” kata Tommy, “Beberapa keputusan bisnis yang penting selalu saya konsultasikan padanya.”

* Yorrys T. Raweyai (Thung Hok Liong)
Ketua Umum Pemuda Pancasila ini bertindak sebagai “panglima” yang mengamankan seluruh operasi jaringan ini di lapangan.

* Arief Prihatna (Cocong) Menurut sumber TEMPO dan Anton Medan, di bidang ini Arief merupakan pemain lama (sejak 1975) urusan memasukan barang lewat pintu belakang. Ia bergabung dengan Tommy sekitar 1985 dan punya jaringan luas di kalangan militer. Seorang mantan karyawati di perusahaan Cocong mengaku bagaimana dia secara rutin mengirimkan “upeti” berupa barang elektronik ke kalangan tentara dan polisi Tak mengherankan, ia mulus memasukkan mobil mewah, barang elektronik, serta obat tradisional (Cina) dari Singapura, Thailand, Taiwan, dan Hong Kong. Arie Sigit (cucu Soeharto) pernah memimpin konsorsium importir obat tradisional ini.

* Edi “Porkas” Winata
Kepada TEMPO, Tommy mengaku kenal baik tokoh ini. Imbuhan nama di tengah muncul karena reputasinya sebagai bandar judi Porkas (perusahaan milik Sigit Hardjojudanto, seperti disebut pula oleh majalah Time pekan lalu). Dia dikenal sebagai “tangan kanan” Tommy dalam bisnis ini. Menurut Anton Medan, beberapa nama berada di bawah lindungan Tommy pula.
Di Jakarta, menurut sebuah sumber, pusat operasi mereka-lewat permainan mickey mouse, rolet, bakarat, black jack, dan lain-lain-adalah Pertokoan Duta Merlin, Jalan Ketapang, dan Jalan Kartini. Belakangan, pusat operasi itu dipindahkan ke Jalan Kunir di kawasan Kota, yang kini dikenal sebagai markas “Konsorsium Judi Indonesia”-jelas bukan nama organisasi resmi-dengan Edi sebagai pemimpinnya.

* Kwee Haryadi Kumala (A Sie) Bersama kakaknya, Cahyadi Kumala (Sui Teng), Haryadi adalah spesialis pembebasan tanah. Anton Medan juga menyebut keterlibatan Teddy Hwat dan Robert Kardinal (saudara Yorrys) dalam urusan tanah ini. Di sektor ini mereka banyak bekerja sama dengan Bambang Trihatmodjo, misalnya di Jonggol dan Sentul. Bahkan, menurut Anton dan sumber TEMPO, beberapa aset Cendana saat ini telah dialihkan ke Tommy Winata: Jonggol (3.200 hektare), Cikarang (5.000 hektare), Sawangan, Sentul, Cikampek, dan perkebunan kelapa sawit di Sumatra Utara (25.000 hektare).

* Arie Sigit
Arie mengenal Tommy lewat pamannya, Bambang Tri. Arie-menurut sumber TEMPO-punya bisnis sampingan menarik, misalnya ekstasi, dengan omzet ratusan miliar per bulan. Tapi, dalam sebuah wawancara dengan majalah Panji beberapa waktu lalu, Arie membantah isu ini dengan tegas. Namun, sebuah sumber menjelaskan bahwa jaringan bisnis itu meliputi Bandung, Medan, Jawa Tengah, Yogya, Surabaya, dan Bali, selain Malaysia dan Australia.
Pemasok utama “komoditas” ini adalah Hong Lie, buron yang dikaitkan dengan pembunuhan Nyo Beng Seng. Hong Lie sekarang bermukim di Hong Kong. Menurut seorang sumber, salah satu lokasi “perakitan” barang terlarang ini, di Tangerang, pernah digerebek polisi pada 1998 lalu, tapi kasusnya lalu dipetieskan.

* Iwan Cahyadi Karsa (Eng Tiong) Melalui PT Sumber Auto Graha (SAG), belum lama ini Iwan membeli 14 ribu unit mobil Timor. Menurut Anton dan sumber lainnya, SAG memperjualbelikan mobil mewah completely built-up yang diselundupkan Arief Cocong.

* Johnny Kesuma Melalui PT Artha Graha Investama, dia adalah orang kepercayaan Tommy di bidang investasi. Johnny adalah adik Aguan. Semula ia mengendalikan PT Amcol Graha Industries, yang pernah memegang lisensi manufaktur Sony. Menurut sumber TEMPO, saat ini ia dicekal. Sebelumnya, ia lebih banyak tinggal di Singapura. Saham Graha Investama juga dimiliki oleh Bakti Investama (dulu milik Mamiek Soeharto).

Link asli:

http://triadkita.blogspot.com/2006/02/mafia-geng-sembilan-di-indonesia.html